Bulan bersaksi atas rahasia jiwa, melalui kerlap-kerlip bintang. Malam hari adalah waktuku; sebagai bentuk cinta dalam kalimat-kalimat doa untuk para penyair yang kehabisan tintanya, bagaimana jika berjalan bersamaku kamu tidak menemukan semua keinginanmu?, bagaimana jika berjalan bersamaku, kamu malah menemukan kesulitan dibanding kebahagiaan yang kamu inginkan?, bagaimana jika berjalan bersamaku kamu hanya akan berdiam di tempat tanpa ada kejelasan kedepannya aku yang akan menyandingmu atau aku yang akan mengantarmu sampai kepada seseorang yang benar yakin bahwa ia siap untuk segalanya bersamamu.
Aku tidak sekuat itu,
Aku juga tidak seberani itu, dan
Aku berisi penuh rasa kekecewaan.
Manusia adalah penghuni yang tidak akan abadi, ia dinamis. Manusia adalah tentang datang, bercerita, lalu pergi. Kata mengagumi adalah yang paling tabah, setabah dengan siapapun dia, bahagia diri sendiri akan ikut serta, masa lalu selalu ada dibelakang, seharusnya manusia tidak perlu repot menyisakan ruang. Sebagai masa lalu semoga kita paham, bahwa pada yang sudah, ya mustinya memang sudah. Kenangan adalah bagiannya, bukan harapan, apalagi tujuan, iya kan?. Oh iya masa lalu memang tempatnya di belakang bukan, kecuali ia menjelma menjadi masa depan yang lebih baik, tapi sepertinya sulit, bahkan terkesan tidak mungkin. Tidak baik merindukan luka, nanti tidak akan sembuh, bukankah hidup itu perihal pertemuan, iya pertemuan yang sekarang dan pertemuan selanjutnya, namun pun jika itu diizinkan. Diperjalanan alam dunia, people come n go kurasa ada benarnya, tentang manusia yang berubah, manusia yang tumbuh, manusia yang berpindah, semua ada benarnya. Manusia selalu punya perannya masing-masing, ada yang menjadi si pelupa, ada juga yang menjadi si pura-pura lupa. Lupa itu kata kiasan, manusia mengendalikan. Aku masih ingat beberapa hal tentang dirimu, tentang gaya berbusana mu, rasa makanan yang paling kau nikmati, bahkan aku ingat lagu lawas kesukaanmu, lagu yang kau putar setiap hari kini kunikmati sendiri.
Merdu di telinga,
Sesak di dada,
Basah di pelupuk mata.
Selamat berpisah, berbahagialah pada proyeksi perjalanan hidupmu yang sudah kau rancang, tentang profesimu, tentang gaun yang sudah kau dambakan, cincin emas yang bersimpul sah pada jari manis bertabur senyum. Aku ucapkan selamat atas segala pencapaian yang akhirnya kau jalani bersama orang lain, kini kau sibuk mengurusi rumah sendiri, menjadi istri atas seorang suami, menjadi ibu dari anak yang sudah kau lahirkan ke dunia, berbahagia.
Semua sudah selesai ya? Terimakasih sudah menyempatkan hadir dalam tahun-tahun kehidupanku, senang dapat mengenalmu sangat dekat walaupun hanya sesaat, kau tahu? Aku senang kita sudah melewati banyak hal, terimakasih sudah bertukar cerita meskipun hanya hal kecil, bagiku itu adalah nyawa, terimakasih sudah mendengar segala bentuk keluh kesahku, terimakasih atas dukungan yang selalu kau beri serta kesabaranmu dalam menghadapiku tanpa kenal lelah. Kini semua yang kusebut barusan telah mati terkubur temaram.
Aku sadar bahwa banyak kesalahan yang telah aku perbuat, bahwa aku gagal untuk dapat memahamimu, banyak maaf selama ini terlalu banyak merepotkan dirimu, maaf jika denganku; kesal, marah, risih yang sering kau rasakan. Pada akhirnya aku meyakinkan diri untuk benar-benar berhenti menghubungi dirimu, walau sangat menolak untuk asing tapi tiada jalan lain yang dapat ditempuh selain melihatmu terlepas dari beban, kau harus berbahagia disana, maka selamat melanjutkan perjalananmu. Selamat tinggal untuk kisah kita.
Bahwasanya sayang tidak mesti bersama bukan?
Satu hal yang menyedihkan terkait kematian adalah yang mati biarlah mati, apakah akan setuju jika aku sampaikan tentang senyummu adalah belantara hutan, dan aku menikmati tersesat tanpa petunjuk didalamnya, dengan perasaan apapun yang berada didalamnya. Aku kembali pada satu hal yaitu selayaknya hutan, kau begitu luas untuk manusia kerdil sepertiku, aku bisa saja mati diterkam binatang buas yang senantiasa nyaman berada dirumah dalam artiannya, Namun bila saja kemungkinan itu terjadi, maka aku telah memilih mati.
Tak tersisa, ditelantarkannya mimpi dan rencana, pemakaman sudah siap sedia bagi jiwa yang telah tiada asa, maka jiwaku bersemayam didalam liang. Berada pada sisi tergelap gubuk derita terbaring lemas tanpa nyawa, sadarkah kau membunuhnya secara perlahan?!, membiarkannya merasakan sakit perih setiap hari tanpa peduli, aroma anyir getir darah yang mengalir dari rongga hati akibat ditusuk kenyataan tanpa belas kasih.
Bagian terpahitnya adalah kamu menepati janjimu, tapi bukan denganku. Kamu menikmati bahagiamu, sedang aku terlilit penuh duri. Aku tidak pernah sedikit pun sumpah serapah agar kau berpisah, karena itu bahagiamu. Saat ini doa-doaku masih sama, tentang kesehatanmu, bahagiamu, keberlancaran kehidupanmu, namun ada satu doa yang kuhapus dengan sengaja, yaitu; doa memintamu agar bersamaku.
Sebenarnya luka dihatiku lelah bersuara lirih bahkan untuk sekedar melangkah pun saja ia tertatih, sebenarnya sudah kronis sebagai imbas dari memaksa mengikhlaskan, tetap tegap gagah menembus gelap, perlahan mediastinum tak lagi pengap sebab kardiovaskular telah merekonstruksi sistemnya kembali. Nadi tak lagi kian sekarat, sebab ia berhasil keluar dari jerat erat takikardia.
Susah payah aku melupakanmu, dengan brengseknya sandikala swastamita memancarkan nayanika, selayaknya bentala yang niskala pun memiliki renjana sebab harsa yang dihadirkan, namun nabastala pada akhirnya. Atau mungkin pada suatu hari nanti disebuah episode kejelasan kau akan menyadari keadaan dan berbisik dengan air mata yang berjatuhan.
Ada beberapa rasa di dunia ini yang mungkin kita sendiri tidak mengerti mengapa rasa itu muncul, kita hanya bisa menerimanya dengan segala bentuk tanda tanya mengapa?, kita tidak benar-benar perlu tau alasan rasa itu muncul. Sebab akhir-akhir ini aku sadar bahwa bisa jadi bukan dia yang jahat, tapi ekspektasi dan pengharapanku terlalu diluar batas penerimaan indra manusia, sehingga memang benar bukan dia yang jahat kepada kita, tapi kita sendiri yang menyakiti diri sendiri.
Aku mengerti tentang kesedihan, karena dalam hidup aku juga pernah mengalaminya, mungkin di belahan dunia lainnya ada seseorang yang sedang mempersiapkan dirinya untuk kita, tentu tidak boleh egois menghakimi hati yang tidak mau menerima orang baru, bisa jadi orang yang kita anggap biasa saja mampu membawa kita ke suasana yang belum pernah kita rasakan sebelumnya sebab kita terbiasa terburu-buru dan menggebu-gebu termasuk dalam menerima dan memilih pasangan, hingga pada akhirnya kita menyalahkan orang lain padahal manusia yang paling salah terhadap diri kita adalah diri kita sendiri.
Menyadari fakta bahwa di dunia ini, ada seseorang yang memang hanya bisa dikagumi tanpa bisa dimiliki.
Selamat bermukim pada kematian, nikmati damai dengan versimu, aku mendoakanmu bahagia dengan duniamu, setidaknya aku memuliakan bumi yang sudah mempertemukan kita, berterimakasih pada pijak bumi dan pada konsonan langit yang menerapkan oksigen yang menghidupi hati kala itu. Namun pada paragraf ini, aku mengikhlaskanmu.
