Pukul 19.11
Tepat saat adzan dikumandangan, kita sementara berpamit dalam pesan “jangan lupa sholat isya” waktu
itu dengan tambahan emotikon lucu senyum pipi merah merona, menandakan bahwa
kita sedang menjalin bahagia berjanji akan segera kembali. Terbawa suasana
selepas ibadah, aku berdiskusi dengan tuhan, memohon agar menjadikan dirimu
sebagai wanita pengisi waktu sampai akhir cerita hidup didunia selesai.
Jelasnya, aku berdoa kepada tuhan agar kau ditetapkan sebagai jodoh yang paling
tepat untuk diriku. Aku terlalu khusyuk berdoa sampai lupa memberi kabar
untukmu, aku menggapai ponsel dengan senyuman, namun seketika senyum itu kandas
ketika ada gejolak menengok status media sosialmu. Tepat sekali, pesan terakhir
dariku pun belum kau baca dan aku menemukan lara dalam sebuah poto yang kau
unggah, kau sedang bersanding ceria bersama lelaki lain, senyum tulus dari
kalian berdua mempercepat pembusukan dalam hati, diatas kain sajadah yang belum
di rapihkan aku masih terduduk dalam kecewa berat ditemani rapuh yang datang
tanpa isyarat, menempatkanku dalam risau berkepanjangan, menanyakan waktu pada
setiap kesibukan yang kau buat dengan bumbu kegembiraan, bersandar pada tuhan
semoga bahagia tetap terciptakan walau dirimu telah menghadirkan kekecewaan.
petala langit menumpuk kisah
Aku disini, kecewa.
Kau disana, berbahagia.
