Kamis, 05 Desember 2024

Sisi Tergelap Gubuk Derita

Bulan bersaksi atas rahasia jiwa, melalui kerlap-kerlip bintang. Malam hari adalah waktuku; sebagai bentuk cinta dalam kalimat-kalimat doa untuk para penyair yang kehabisan tintanya, bagaimana jika berjalan bersamaku kamu tidak menemukan semua keinginanmu?, bagaimana jika berjalan bersamaku, kamu malah menemukan kesulitan dibanding kebahagiaan yang kamu inginkan?, bagaimana jika berjalan bersamaku kamu hanya akan berdiam di tempat tanpa ada kejelasan kedepannya aku yang akan menyandingmu atau aku yang akan mengantarmu sampai kepada seseorang yang benar yakin bahwa ia siap untuk segalanya bersamamu.


Aku tidak sekuat itu,

Aku juga tidak seberani itu, dan

Aku berisi penuh rasa kekecewaan.



Manusia adalah penghuni yang tidak akan abadi, ia dinamis. Manusia adalah tentang datang, bercerita, lalu pergi. Kata mengagumi adalah yang paling tabah, setabah dengan siapapun dia, bahagia diri sendiri akan ikut serta, masa lalu selalu ada dibelakang, seharusnya manusia tidak perlu repot menyisakan ruang. Sebagai masa lalu semoga kita paham, bahwa pada yang sudah, ya mustinya memang sudah. Kenangan adalah bagiannya, bukan harapan, apalagi tujuan, iya kan?. Oh iya masa lalu memang tempatnya di belakang bukan, kecuali ia menjelma menjadi masa depan yang lebih baik, tapi sepertinya sulit, bahkan terkesan tidak mungkin. Tidak baik merindukan luka, nanti tidak akan sembuh, bukankah hidup itu perihal pertemuan, iya pertemuan yang sekarang dan pertemuan selanjutnya, namun pun jika itu diizinkan. Diperjalanan alam dunia, people come n go kurasa ada benarnya, tentang manusia yang berubah, manusia yang tumbuh, manusia yang berpindah, semua ada benarnya. Manusia selalu punya perannya masing-masing, ada yang menjadi si pelupa, ada juga yang menjadi si pura-pura lupa. Lupa itu kata kiasan, manusia mengendalikan. Aku masih ingat beberapa hal tentang dirimu, tentang gaya berbusana mu, rasa makanan yang paling kau nikmati, bahkan aku ingat lagu lawas kesukaanmu, lagu yang kau putar setiap hari kini kunikmati sendiri.


Merdu di telinga,

Sesak di dada,

Basah di pelupuk mata.


Selamat berpisah, berbahagialah pada proyeksi perjalanan hidupmu yang sudah kau rancang, tentang profesimu, tentang gaun yang sudah kau dambakan, cincin emas yang bersimpul sah pada jari manis bertabur senyum. Aku ucapkan selamat atas segala pencapaian yang akhirnya kau jalani bersama orang lain, kini kau sibuk mengurusi rumah sendiri, menjadi istri atas seorang suami, menjadi ibu dari anak yang sudah kau lahirkan ke dunia, berbahagia.


Semua sudah selesai ya? Terimakasih sudah menyempatkan hadir dalam tahun-tahun kehidupanku, senang dapat mengenalmu sangat dekat walaupun hanya sesaat, kau tahu? Aku senang kita sudah melewati banyak hal, terimakasih sudah bertukar cerita meskipun hanya hal kecil, bagiku itu adalah nyawa, terimakasih sudah mendengar segala bentuk keluh kesahku, terimakasih atas dukungan yang selalu kau beri serta kesabaranmu dalam menghadapiku tanpa kenal lelah. Kini semua yang kusebut barusan telah mati terkubur temaram.


Aku sadar bahwa banyak kesalahan yang telah aku perbuat, bahwa aku gagal untuk dapat memahamimu, banyak maaf selama ini terlalu banyak merepotkan dirimu, maaf jika denganku; kesal, marah, risih yang sering kau rasakan. Pada akhirnya aku meyakinkan diri untuk benar-benar berhenti menghubungi dirimu, walau sangat menolak untuk asing tapi tiada jalan lain yang dapat ditempuh selain melihatmu terlepas dari beban, kau harus berbahagia disana, maka selamat melanjutkan perjalananmu. Selamat tinggal untuk kisah kita.


Bahwasanya sayang tidak mesti bersama bukan?


Satu hal yang menyedihkan terkait kematian adalah yang mati biarlah mati, apakah akan setuju jika aku sampaikan tentang senyummu adalah belantara hutan, dan aku menikmati tersesat tanpa petunjuk didalamnya, dengan perasaan apapun yang berada didalamnya. Aku kembali pada satu hal yaitu selayaknya hutan, kau begitu luas untuk manusia kerdil sepertiku, aku bisa saja mati diterkam binatang buas yang senantiasa nyaman berada dirumah dalam artiannya, Namun bila saja kemungkinan itu terjadi, maka aku telah memilih mati.


Tak tersisa, ditelantarkannya mimpi dan rencana, pemakaman sudah siap sedia bagi jiwa yang telah tiada asa, maka jiwaku bersemayam didalam liang. Berada pada sisi tergelap gubuk derita terbaring lemas tanpa nyawa, sadarkah kau membunuhnya secara perlahan?!, membiarkannya merasakan sakit perih setiap hari tanpa peduli, aroma anyir getir darah yang mengalir dari rongga hati akibat ditusuk kenyataan tanpa belas kasih.


Bagian terpahitnya adalah kamu menepati janjimu, tapi bukan denganku. Kamu menikmati bahagiamu, sedang aku terlilit penuh duri. Aku tidak pernah sedikit pun sumpah serapah agar kau berpisah, karena itu bahagiamu. Saat ini doa-doaku masih sama, tentang kesehatanmu, bahagiamu, keberlancaran kehidupanmu, namun ada satu doa yang kuhapus dengan sengaja, yaitu; doa memintamu agar bersamaku.


Sebenarnya luka dihatiku lelah bersuara lirih bahkan untuk sekedar melangkah pun saja ia tertatih, sebenarnya sudah kronis sebagai imbas dari memaksa mengikhlaskan, tetap tegap gagah menembus gelap, perlahan mediastinum tak lagi pengap sebab kardiovaskular telah merekonstruksi sistemnya kembali. Nadi tak lagi kian sekarat, sebab ia berhasil keluar dari jerat erat takikardia.


Susah payah aku melupakanmu, dengan brengseknya sandikala swastamita memancarkan nayanika, selayaknya bentala yang niskala pun memiliki renjana sebab harsa yang dihadirkan, namun nabastala pada akhirnya. Atau mungkin pada suatu hari nanti disebuah episode kejelasan kau akan menyadari keadaan dan berbisik dengan air mata yang berjatuhan.


Ada beberapa rasa di dunia ini yang mungkin kita sendiri tidak mengerti mengapa rasa itu muncul, kita hanya bisa menerimanya dengan segala bentuk tanda tanya mengapa?, kita tidak benar-benar perlu tau alasan rasa itu muncul. Sebab akhir-akhir ini aku sadar bahwa bisa jadi bukan dia yang jahat, tapi ekspektasi dan pengharapanku terlalu diluar batas penerimaan indra manusia, sehingga memang benar bukan dia yang jahat kepada kita, tapi kita sendiri yang menyakiti diri sendiri. 


Aku mengerti tentang kesedihan, karena dalam hidup aku juga pernah mengalaminya, mungkin di belahan dunia lainnya ada seseorang yang sedang mempersiapkan dirinya untuk kita, tentu tidak boleh egois menghakimi hati yang tidak mau menerima orang baru, bisa jadi orang yang kita anggap biasa saja mampu membawa kita ke suasana yang belum pernah kita rasakan sebelumnya sebab kita terbiasa terburu-buru dan menggebu-gebu termasuk dalam menerima dan memilih pasangan, hingga pada akhirnya kita menyalahkan orang lain padahal manusia yang paling salah terhadap diri kita adalah diri kita sendiri.


Menyadari fakta bahwa di dunia ini, ada seseorang yang memang hanya bisa dikagumi tanpa bisa dimiliki.


Selamat bermukim pada kematian, nikmati damai dengan versimu, aku mendoakanmu bahagia dengan duniamu, setidaknya aku memuliakan bumi yang sudah mempertemukan kita, berterimakasih pada pijak bumi dan pada konsonan langit yang menerapkan oksigen yang menghidupi hati kala itu. Namun pada paragraf ini, aku mengikhlaskanmu.


Share:

Sabtu, 25 November 2023

Balada Ananta

 Katanya hidup ini terbagi menjadi dua babak, yang pertama kita mengharapkan yang kedua akan datang dan yang kedua kita berharap yang pertama akan kembali. Manusia memang aneh, ketika sudah digunung malah pantai yang dirindukan, setibanya di pantai malah gunung yang ditanyakan, ketika kemarau bertamu malah hujan yang ditanyakan, namun ketika hujan datang kenapa malah bertanya kapan hujan akan selesai.

jika kita mencintai langit, kita harus siap memaklumi hujan dan petirnya.


Kuberitahu nona, aku seorang pria muda penikmat sastra, akan kuabadikan tiap nafas dalam kisah tak terbaca oleh mata namun terasa oleh jiwa, yang tidak dapat dijelaskan layaknya saat daun gugur dipetik oleh angin dan seperti debu yang sedang terombang-ambing ditiup angin tak berarah. Senja tenggelam di tepian jurang lalu gelap malam kian membunuhnya perlahan dengan siksa hingga sesaat kerajaan matahari direbut begitu saja diganti paksa singgahsana sang rembulan. Sajakku bisa saja bersifat fana namun perasaan tidak mungkin fatamorgana, dalam bahasa sunyi kupungut beberapa kata lalu merakitnya dalam rasa menjadikannya indah pada frasa sastra. Ini tentang bahasa yang tidak semua orang dapat mengerti namun akan begitu mudah jika hanya sekedar dibaca, memahami memang serumit itu. Lewat diksi dengan sedikit retorika sederhana kutulis kembali tentangmu di bab lain sebagai lanjutan.

Kembali kutulis namamu dibab lain, bab dimana yang seharusnya sudah tidak ada karena terakhir kali sudah kusimpulkan seluruh kisah, sangat sebentar saya menulisnya tapi paragraf demi paragraft tercipta begitu saja tanpa rasa lelah dan tanpa jeda, tentangmu meski tidak bersama, aku tetap senang pernah menemukanmu dalam ketidak sengajaan, iya bahwasanya aku memang menemukanmu dengan ketidak sengajaan pada keheningan kala itu.

Apakah kau pernah bertanya bagaimana bentuk luka jika menjadi sebuah bahasa, akan seperti apa jadinya?. Apakah menjadi yang paling bising diantara keramaian, menjadi yang paling ribut diteriknya siang atau menjadi yang paling tenang diantara heningnya senja, menjadi yang paling diam didinginnya tengah malam. Atau mungkin ia menjadi yang paling hening diantara bising, menjadi yang paling tenang ditengah keramaian.

Mari kembali kemasa itu, seperti halnya menyukai senja yang tak perlu kujelaskan lebih dalam, aku selalu menyukai matamu, matamu menenggelamkan fokus namun matamu selalu bisa menenagkan segala yang gusar. Aku melihat diriku semakin dalam, semakin tidak mau keluar dari matamu seolah mempunyai magis sendiri. Itulah sebab mengapa aku suka bersamamu, terkadang tidak terlalu banyak bicara, kita hanya menikmati udara yang seliweran sambil saling menatap. Dalam hati, aku ingin memanjatkan doa agar dengaku saja kamu ingin menetap.

Aku memang suka segala tentangmu, bahkan saat kamu cemberut dan cemburu, tentu tidak dengan porsi yang berlebihan, bagaimana caramu menahan rasa kesal saat itu. Dengan begitu, kamu selalu terlihat semakin memesona,

Sebab luka tercipta dari seseorang yang kita anggap istimewa.

Aku memercayaimu, waktu itu. Demikian denganmu yang menyandarkan pelukmu kepadaku sebagai bentuk perayaan atas kenyamanan. Pernah beberapa hari, minggu bahkan bulan, kita bersama-sama melukis kisah yang terkenang. Tak perlu kamu sesali, sebab dulu kamu pernah berjanji sebelum kita terlalu jauh dalam massa jarak waktu:

diantara sela angin jalan kau bertanya dengan penuh risau “Bisa tidak, kau tak jauh?”
kujawab “jauhku bukan sebuah keinginan”
“Tapi aku tidak bisa jauh” jawabmu ringkas  dalam rengekkan
“Ini hanya perihal jarak dan waktu, nanti kusempatkan diri bertemu”

Jelang lepas beberapa waktu, aku sudah menepati janji tak jauh, namun kau memilih hilang.

Jika kedekatan hanya untuk membuat sebatas saling menyembuhkan luka karena orang lain, sebaiknya kita tidak usah bertemu, sebab aku datang dengan ketulusan serta kebahagiaan. Ketika lukamu sembuh lalu kau memilih pergi. Sialnya, kepergianmu menjadi luka baru untukku, jika memang iya kedekatan kita diperuntukkan hanya untuk sebatas itu, seharusnya kita memang tidak usah saling mengenal saja. Karena apa untungnya jika orang yang berhasil menyembuhkanku adalah orang yang melukaiku lebih hebat dari lukaku kemarin?

Hingga kita mencapai titik akhir.
diantara tanda baca.
Bisa kah kita kembali ke awal lagi?
Bukan pada bagian kita menjadi saling.
Namun pada bagian kita masih asing.

Share:

Minggu, 16 Oktober 2022

Ablasi

Seiring perjalanan hidup, ternyata aku mulai menyadari bahwa memaafkan adalah memberi kedamaian kepada diri sendiri atas kejadian yang menimpa diri kita sendiri. Memaafkan bukanlah tentang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melukai kita kembali, melainkan perihal mengihklaskan hal-hal yang sudah terjadi.



Share: