Bagi sebuah senyum yang berisi tangis, air mata tak pernah singgah di pelupuk mata. Dia tenang dalam gambaran lengkuk garis bibir, mendewasakan hati. Ditemani secangkir kopi dikesepian malam, kamar menjadi saksi bisu atas seorang pemuda yang mengabadikan kisah silamnya dalam sebuah cerita tertulis.
Detak memberoktak detik, purnama menyulam malam, dan
tentangmu kini hanya sebuah kisah kelam. Luka yang kau tambat telah tertancap
hebat dalam relung yang tak pernah bisa terbendung, kini termenung dalam dekapan
angin malam yang berkolaborasi dengan dedaunan mencipta senandung sunyi.
Kantuk mata yang pernah tertahan sebab saling mendengar
cerita atas hari yang telah dilalui, rindu kau bilang, butuh teman saat sepi
faktanya. Kau tidak pernah hadir sebagai satu keutuhan, ragamu nyata namun
perasaanmu hanyalah sebatas bias. Hilang secara perlahan, hanya waktu saja yang
berbicara, tentang kepergianmu adalah skema paling brengsek dalam sebuah
perasaan.
Hadirku ketika kau patah, saat kau sembuh kau kembali berkelana dengannya.
