Jumat, 21 Agustus 2020

Katastrofe

Bagi sebuah senyum yang berisi tangis, air mata tak pernah singgah di pelupuk mata. Dia tenang dalam gambaran lengkuk garis bibir, mendewasakan hati. Ditemani secangkir kopi dikesepian malam, kamar menjadi saksi bisu atas seorang pemuda yang mengabadikan kisah silamnya dalam sebuah cerita tertulis.

Detak memberoktak detik, purnama menyulam malam, dan tentangmu kini hanya sebuah kisah kelam. Luka yang kau tambat telah tertancap hebat dalam relung yang tak pernah bisa terbendung, kini termenung dalam dekapan angin malam yang berkolaborasi dengan dedaunan mencipta senandung sunyi.

Kantuk mata yang pernah tertahan sebab saling mendengar cerita atas hari yang telah dilalui, rindu kau bilang, butuh teman saat sepi faktanya. Kau tidak pernah hadir sebagai satu keutuhan, ragamu nyata namun perasaanmu hanyalah sebatas bias. Hilang secara perlahan, hanya waktu saja yang berbicara, tentang kepergianmu adalah skema paling brengsek dalam sebuah perasaan.



Hadirku ketika kau patah, saat kau sembuh kau kembali berkelana dengannya.

Share: